Kamis, 16 Maret 2017

MAWAR HITAM DALAM KOTAK KACA


Rosa Nera… kusebut kau rosa nera, mawar impian, mawar mempesona. Sosokmu adalah sesuatu yang kuimpikan dan kuharapkan. Namun banyak belukar disekitarmu meski aku menginginkanmu, jangankan menyentuh, mendekatimu sudah membuatku takut. Aku takut terluka awalnya. Hingga suatu hari kau menyapaku dalam sebuah tulisan.

Kita saling menulis kata-kata pertemanan, kita berlempar canda, bercerita tentang mimpi-mimpi dan imaji. Aku mulai berani untuk menyentuhmu, lalu kau genggam erat tanganku. Aku merasa menemukan duniaku, mendapatkan mimpiku. Bersamamu dan beberapa orang juga menjadi dekat denganku. Begitu indah, begitu sempurna. Semua yang aku butuhkan dam impikan ada pada dirimu dan orang-orang itu.

Berjalan bersamamu adalah sebuah kebanggaan bagiku. Terkadang canggung namun aku bahagia. Rosa nera, kusimpan kau dalam kotak kaca, untuk kupandangi dan kumiliki.
“Because tonight
Will be the night
I will fall for you
Over again don’t make me change my mind
Because the girl like you is impossible to find
Your impossible to find”
Saat-saat itu adalah saat yang sungguh indah. Terlalu sempurna seperti mimpi yang jadi nyata.

Hingga suatu ketika kulihat pesonamu meredup, kelopakmu seakan berpaling dari hadapanku, berpaling meninggalkanku. Rosa nera dalam kotak kaca, kau nampak sesak, tak bahagia, kau telah berubah. Duri-durimu mulai mencoba menggores kotak kacaku. Tak tahukah aku sangat menyayangimu. Goresan itu perlahan menjadi luka. Tanpa sepatahkatapun kau jadi berbeda.

Hingga kupecahkan kotak kaca itu dengan tanganku sendiri. Serpihannya dalam menusuk dan perih. Pergilah, walau aku sekarat. Pergilah, walau seakan tak berarti hidup ini bila tanpamu. Kau hanya berkata
“Lupakanlah aku! Selamat tinggal.”
Bagai ditikam belati kenyataan, aku terbunuh.
Aku merasa taka da artinya lagi aku membuka mata. Ntah imaji atau depresi. Seakan gambaran kematian dengan mudah membuat alur ceritaya diotakku. Bagai menonton sebuah film drama kematian itu setiap saat muncul dengan berbagai skenarionya.
Setiap goresan dan darah yang mengalir tak lebih perih dari luka hati ini. Serasa gila ketika ku mendengar lirik-lirik yang pernah kau nyanyikan untukku. Aku lelah, aku muak dengan semua tentangmu. Tapi aku tak bisa berpaling darimu. Biar ku tak termiliki jika bukan olehmu, pikirku waktu itu. Aku sempat mencoba melenyapkan nafasku agar sakit ini segera usai, namun mungkin Tuhan masih membiarkanku merasakan cintaNya. Kemudian Ia mengirimkan pengobat lukaku.
Waktu demi waktu berlalu, cerita lain mulai datang mengisi, cerita yang dulu belum termulai ia menulis kata demi katanya kembali. Dan aku menyadari begitu bodoh dan sia-sianya hatiku. Namun aku banyak belajar dari luka itu. Luka yang mendewasakanku. Luka itu yang mengajariku tentang cinta tak hanya sekadar keinginan, mimpi dan harapan. Cinta adalah kenyataan. Cinta adalah kebersamaan. Cinta adalah tentang belajar saling menjaga dan mendewasakan.
Rosa Nera dalam kotak kaca, kini kau hanya sepenggal cerita. Bersamamu aku belajar benyak hal, terbunuh olehmu mendewasakanku. Aku tak pernah sekalipun membencimu, walau pudarmu tanpa sepatah katapun. Dan ku beruntung sempat memilikimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar