“Hemmh…
segarnya!” Aroma teh yang khas ditemani pemandangan pedesaan dan megahnya
gunung Merapi, sejuk dan segar, udara yang begitu bersih, indahnya. Suasana seperti
ini yang selalu aku rindukan ketika datang kesini. Sebuah desa kecil di Jawa
Tengah. Rumah nenek. Tempat yang tenang dan nyaman dengan lingkungan penuh
kehangatan dan keramahan. Istimewa. Tak ku temukan yang seperti ini di kota
sana.
“emm…
Bulik!” panggilku kepada adik perempuan ayahku.
“Ada
apa Ndhuk?” panggilan yang selalu membuatku nyaman.
“Teman-temanku
yang dulu pernah bermain bersama itu masih banyak yang tinggal disini Bulik?”
tanyaku penasaran, entah tiba-tiba aku teringat sepuluh tahun yang lalu saat
aku berlibur kesini.
“hmm…
anak seusiamu sudah banyak yang bekerja keluar kota Ndhuk! Apalagi yang
peremuan sudah banyak yang menikah.” Jawabnya sambil menerawang jauh mencoba
mengingat anak-anak yang kini sudah tumbuh dewasa.
Setelah
menghabiskan teh hangat yang nikmat itu aku pergi berkeliling desa sambil main
ke sawah.
“Bulik
aku jalan-jalan dulu ya!” pamit ku pada Bulik Sari.
Dengan bersemangat
aku melangkahkan kakiku menuju jalan-jalan setapak yang kanan kirinya ditumbuhi
berbagai tanaman.
“sejuknyaaa!”
kataku sambil merentangkan kedua tangan menikmati udara yang sejuk dan segar. Tak
terasa langkahku tiba di sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas.
“eh
sini! Ayo main sini!” seorang anak perempuan menarik tanganku.
“hah? Main
apa?” tanyaku bingung.
“mainan
kotak pos ayo!” kata salah satu anak yang sama sekali belum ku kenal.
“ayo…ayo..ayo!!”
seru beberapa anak lain.
“ayo wis!” seru seorang anak laki-laki yang
mungkin setahun lebih tua dariku.
“nggak
usah pakai nama hewan yo? Tapi dia
yang jaga!” sambil menunjuk kearahku.
“eh..
kok.. aku? Kenapa?” tanyaku bingung.
“kalau
nggak mau ya udah! Pergi sana!” katanya.
Merasa tertantang
san sedikit sebal karena sikap anak itu. Permainan pun dimulai.
“Kotak pos belum diisi mari kita
isi dengan isi isian….” lalu satu persatu menyalamiku dan menyebutkan namanya.
“Sena!”
kata anak menyebalkan itu.
Aku mengejar
anak yang berlarian sambil mengingat nama-nama mereka. Lari mereka yang cukup
cepat dan aku yang belum bisa menghafal nama-nama mereka cukup dibuat repot dan
lelah, tapi menyenangkan.
“Dani! Kena”
kataku sambil menepuk bahu seorang anak
laki-laki.
“Yee…
salah!” teriak semua anak bersamaan.
“Asri! Kena!
Ye salah aku Nurul! Wekkk!” sambil membuat wajah lucu kearahku.
Setelah
hampir satu jam berjuang sekuat tenaga permainan itu mulai tidak asik buatku. Aku
berlari dengan mata berkaca-kaca, aku hampir menangis, sebal, merasa
dipermainkan.
“semua
salah anak itu! Salah dia!” kataku dalam hati mengutuk anak itu. Semua anak
tertawa terbahak-bahak karena sekalipun aku tak pernah benar menebak nama
mereka. Yang namanya mulai ku hafal larinya terlalu kencang. Termasuk Sena,
anak menyebalkan itu.
Aku sudah
lelah. Lelah dipermainkan. Rasanya ingin menangis. Tak terasa air mataku mulai
menetes. Aku berlari sekencang mungkin agar permainan ini segera selesai. Aku melihat
sebuah punggung yang berlali menjauhiku, aku berlari sekencang mungkin.
“Sena! Hiks…
hiks… kena.. huu..hu..huu” suaraku lemah sambil mulai menangis.
“Wis-wis.. Bocahe nangis! Pulang yook!”
katanya pada seluruh anak disitu.
“ayo…ayo
huuu nangisan.. huuu!” seru anak-anak yang lain.
Aku terdiam.
Air mata masih membasahi pipiku. Dengan pandangan buram mataku melihat
anak-anak itu meninggalkan halaman yang luas itu.
Sore itu
langit kemerahan, angin berhembus sejuk. Indah, tapi aku sedang sedih. Aku masih
terus menangis. Kakiku lelah sekali. Aku terduduk dan masih menangis. Tiba-tiba
aku mendengar suara langkah kaki menuju kearahku.
Sesosok
anak laki-laki cukup tinggi untuk anak seusianya, kulitnya bersih, langkahnya
tegap, wajahnya cukup manis sebenarnya, ia berjalan kearahku. Tanpa sepatah
katapun ia mengusap air mataku dan mengacak-acak poniku.
“Ayo
kuantar pulang!” katanya sambil menarik tanganku. Sepanjang jalan tanpa sepatah
kata keluar. Tak lama kemudian tiba di sebelah rumah nenekku.
“besok
pagi ayo main lagi! Aku tunggu di tempat tadi!” katanya.
Tak sempat
aku menjawab ia sudah lari, pergi menjauh. Aku masih terdiam memandang hingga
sosoknya menghilang di ujung jalan. Tanpa sadar aku tersenyum, rasanya tak
sedih lagi.
“ Apa
Ma! Pulang nanti malam? Kok pulang! Aaaa nggak mau!” protesku ketika orang
tuaku memutuskan kami harus pulang malam ini juga karena mendadak mama ada
tugas dari kantornya yang tak bisa di tunda.
“kamu
ikut pulang atau pulang naik bis sendirian!” bentak mamaku. Aku mulai menangis.
“Aku harus ke tempat itu besok pagi,
Sena pasti menunggu.” Kataku dalam hati. Mau tak mau aku harus pulang malam itu
juga.
Beberapa hari setelah itu
liburanpun selesai. Aku sangat bersemangat masuk sekolah. Walaupun sekarang aku
sudah naik kelas 5 namun aju telah berjanji duduk sebanggu lagi dengan Ana, dia
sahabat baikku.
“hai cha! Apa kabar? Gimana liburanmu?
Kamu ke Klaten ya kemarin?” sapa Ana dengan keriangan seperti biasa.
“hahaha. Baik Na! iya aku ke
Klaten ke rumah nenekku. Tapi sayang Cuma 2 hari mamaku harus ke kantor. Menyebalkan!
Eh kamu tau nggak di sana ada anak cowok cakep sih tapi…” ceritaku penuh
semangat namun harus terpotong karena bu guru memasuki ruangan kelas.
“tapi apa cha?” tanya Ana sambil
berbisik.
“dia nyebelin. Tapi kayaknya aku
suka sama dia! Namanya Sena” kataku sambil memalingkan muka meperhatikan guru
yang baru memasuki kelas. Meninggalkan rasa penasaran pada Ana tentang
liburanku di Klaten
Tak sadar beberapa menit aku
berhenti di tempat itu memandang halaman tempat dulu aku bermain dengan
anak-anak sekitar sini dengan Sena tentunya. Aku merasa aneh, tersenyum geli
mengingat masa sepuluh tahun yang lalu. Teringat aku suka pada seorang anak
bernama Sena.
“hmmmh” aku menghela nafas
panjang sambil tersenyum.
“kata orang sih cinta monyet! Memang
Sena menyebalkan seperti monyet” kataku dalam hati sambil terus tersenyum. Kemudian
aku melangkah sambil bersenandung.
“eh..” aku merasa berpapasan
dengan seorang pemuda gagah berseragam sambil menjinjing tas dengan penuh
wibawa. Aku berbalik untuk memastikan kemana dia akan berhenti, siapa tau dulu
aku mengenalnya. Ternyata dia berhenti
di depan taman itu. Dia berbalik. Mata kami berpandangan.
“Sena?” kataku lirih.
Disebrang sana tatapan matanya
seakan berkata. “ aku masih menunggumu disini Cha!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar