Sabtu, 11 Maret 2017

Kotak Pos

                “Hemmh… segarnya!” Aroma teh yang khas ditemani pemandangan pedesaan dan megahnya gunung Merapi, sejuk dan segar, udara yang begitu bersih, indahnya. Suasana seperti ini yang selalu aku rindukan ketika datang kesini. Sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Rumah nenek. Tempat yang tenang dan nyaman dengan lingkungan penuh kehangatan dan keramahan. Istimewa. Tak ku temukan yang seperti ini di kota sana.
                “emm… Bulik!” panggilku kepada adik perempuan ayahku.
                “Ada apa Ndhuk?” panggilan yang selalu membuatku nyaman.
                “Teman-temanku yang dulu pernah bermain bersama itu masih banyak yang tinggal disini Bulik?” tanyaku penasaran, entah tiba-tiba aku teringat sepuluh tahun yang lalu saat aku berlibur kesini.
                “hmm… anak seusiamu sudah banyak yang bekerja keluar kota Ndhuk! Apalagi yang peremuan sudah banyak yang menikah.” Jawabnya sambil menerawang jauh mencoba mengingat anak-anak yang kini sudah tumbuh dewasa.
                Setelah menghabiskan teh hangat yang nikmat itu aku pergi berkeliling desa sambil main ke sawah.
                “Bulik aku jalan-jalan dulu ya!” pamit ku pada Bulik Sari.
                Dengan bersemangat aku melangkahkan kakiku menuju jalan-jalan setapak yang kanan kirinya ditumbuhi berbagai tanaman.
                “sejuknyaaa!” kataku sambil merentangkan kedua tangan menikmati udara yang sejuk dan segar. Tak terasa langkahku tiba di sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas.
                “eh sini! Ayo main sini!” seorang anak perempuan menarik tanganku.
                “hah? Main apa?” tanyaku bingung.
                “mainan kotak pos ayo!” kata salah satu anak yang sama sekali belum ku kenal.
                “ayo…ayo..ayo!!” seru beberapa anak lain.
                “ayo wis!” seru seorang anak laki-laki yang mungkin setahun lebih tua dariku.
                “nggak usah pakai nama hewan yo? Tapi dia yang jaga!” sambil menunjuk kearahku.
                “eh.. kok.. aku? Kenapa?” tanyaku bingung.
                “kalau nggak mau ya udah! Pergi sana!” katanya.
                Merasa tertantang san sedikit sebal karena sikap anak itu. Permainan pun dimulai.
“Kotak pos belum diisi mari kita isi dengan isi isian….” lalu satu persatu menyalamiku dan menyebutkan namanya.
                “Sena!” kata anak menyebalkan itu.
                Aku mengejar anak yang berlarian sambil mengingat nama-nama mereka. Lari mereka yang cukup cepat dan aku yang belum bisa menghafal nama-nama mereka cukup dibuat repot dan lelah, tapi menyenangkan.
                “Dani! Kena” kataku sambil menepuk bahu seorang anak  laki-laki.
                “Yee… salah!” teriak semua anak bersamaan.
                “Asri! Kena! Ye salah aku Nurul! Wekkk!” sambil membuat wajah lucu kearahku.
                Setelah hampir satu jam berjuang sekuat tenaga permainan itu mulai tidak asik buatku. Aku berlari dengan mata berkaca-kaca, aku hampir menangis, sebal, merasa dipermainkan.
                “semua salah anak itu! Salah dia!” kataku dalam hati mengutuk anak itu. Semua anak tertawa terbahak-bahak karena sekalipun aku tak pernah benar menebak nama mereka. Yang namanya mulai ku hafal larinya terlalu kencang. Termasuk Sena, anak menyebalkan itu.
                Aku sudah lelah. Lelah dipermainkan. Rasanya ingin menangis. Tak terasa air mataku mulai menetes. Aku berlari sekencang mungkin agar permainan ini segera selesai. Aku melihat sebuah punggung yang berlali menjauhiku, aku berlari sekencang mungkin.
                “Sena! Hiks… hiks… kena.. huu..hu..huu” suaraku lemah sambil mulai menangis.
                “Wis-wis.. Bocahe nangis! Pulang yook!” katanya pada seluruh anak disitu.
                “ayo…ayo huuu nangisan.. huuu!” seru anak-anak yang lain.
                Aku terdiam. Air mata masih membasahi pipiku. Dengan pandangan buram mataku melihat anak-anak itu meninggalkan halaman yang luas itu.
                Sore itu langit kemerahan, angin berhembus sejuk. Indah, tapi aku sedang sedih. Aku masih terus menangis. Kakiku lelah sekali. Aku terduduk dan masih menangis. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki menuju kearahku.
                Sesosok anak laki-laki cukup tinggi untuk anak seusianya, kulitnya bersih, langkahnya tegap, wajahnya cukup manis sebenarnya, ia berjalan kearahku. Tanpa sepatah katapun ia mengusap air mataku dan mengacak-acak poniku.
                “Ayo kuantar pulang!” katanya sambil menarik tanganku. Sepanjang jalan tanpa sepatah kata keluar. Tak lama kemudian tiba di sebelah rumah nenekku.
                “besok pagi ayo main lagi! Aku tunggu di tempat tadi!” katanya.
                Tak sempat aku menjawab ia sudah lari, pergi menjauh. Aku masih terdiam memandang hingga sosoknya menghilang di ujung jalan. Tanpa sadar aku tersenyum, rasanya tak sedih lagi.
                “ Apa Ma! Pulang nanti malam? Kok pulang! Aaaa nggak mau!” protesku ketika orang tuaku memutuskan kami harus pulang malam ini juga karena mendadak mama ada tugas dari kantornya yang tak bisa di tunda.
                “kamu ikut pulang atau pulang naik bis sendirian!” bentak mamaku. Aku mulai menangis.
“Aku harus ke tempat itu besok pagi, Sena pasti menunggu.” Kataku dalam hati. Mau tak mau aku harus pulang malam itu juga.
Beberapa hari setelah itu liburanpun selesai. Aku sangat bersemangat masuk sekolah. Walaupun sekarang aku sudah naik kelas 5 namun aju telah berjanji duduk sebanggu lagi dengan Ana, dia sahabat baikku.
“hai cha! Apa kabar? Gimana liburanmu? Kamu ke Klaten ya kemarin?” sapa Ana dengan keriangan seperti biasa.
“hahaha. Baik Na! iya aku ke Klaten ke rumah nenekku. Tapi sayang Cuma 2 hari mamaku harus ke kantor. Menyebalkan! Eh kamu tau nggak di sana ada anak cowok cakep sih tapi…” ceritaku penuh semangat namun harus terpotong karena bu guru memasuki ruangan kelas.
“tapi apa cha?” tanya Ana sambil berbisik.
“dia nyebelin. Tapi kayaknya aku suka sama dia! Namanya Sena” kataku sambil memalingkan muka meperhatikan guru yang baru memasuki kelas. Meninggalkan rasa penasaran pada Ana tentang liburanku di Klaten
Tak sadar beberapa menit aku berhenti di tempat itu memandang halaman tempat dulu aku bermain dengan anak-anak sekitar sini dengan Sena tentunya. Aku merasa aneh, tersenyum geli mengingat masa sepuluh tahun yang lalu. Teringat aku suka pada seorang anak bernama Sena.
“hmmmh” aku menghela nafas panjang sambil tersenyum.
“kata orang sih cinta monyet! Memang Sena menyebalkan seperti monyet” kataku dalam hati sambil terus tersenyum. Kemudian aku melangkah sambil bersenandung.
“eh..” aku merasa berpapasan dengan seorang pemuda gagah berseragam sambil menjinjing tas dengan penuh wibawa. Aku berbalik untuk memastikan kemana dia akan berhenti, siapa tau dulu aku mengenalnya.  Ternyata dia berhenti di depan taman itu. Dia berbalik. Mata kami berpandangan.
“Sena?” kataku lirih.

Disebrang sana tatapan matanya seakan berkata. “ aku masih menunggumu disini Cha!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar