Jumat, 17 Maret 2017

BERANI MATI ITU GAMPANG

         Hidup terkadang tidak mudah, pada dasarnya kita hanya bisa berusaha dengan baik sesuai versi dan kapasitas kita, tapi untuk hasilnya tak jarang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Hidup itu tak pasti, katakanlah kita yakin melakukan sesuatu sesempurna mungkin, kita membangun ekspektasi bahwa apa yang kita jalani ini akan happy ending. Banyak orang yang pada titik itu merasa siap untuk sukses, siap untuk mendapatkan sesuatu yang membahagiakan, namun terkadang mereka lupa bahwa mereka bukan Tuhan. Dan banyak orang di titik itu tidak siap untuk gagal.
Kita tentu sering mendengar tidak ada seseorang yang menjadi hebat hanya tinggal dalam zona nyamannya. Justru sebaliknya setiap kegagalan-kegagalan yang Tuhan ijinkan itu terjadi pada kita, dari sanalah kita harus mengambil pelajaran-pelajaran untuk meng-upgrade kualitas diri kita. Seperti emas yang terus dipanaskan agar lebih murni dan bernilai. Seperti batu mulia yang terus dikikis, diasah agar terpancar keindahannya. Simpelnya seperti itu. Tapi apakah semudah itu?
Apakah sesederhana itu kodrat kita sebagai manusia, usaha lalu gagal dan bangkit lagi. Mudah kalau hanya dibicarakan. Coba sejenak kita luangkan waktu duduk dalam keheningan, tanpa melakukan apapun. Apa yang terjadi? Seolah-olah kita mendengar berbagai bisikan, suara-suara yang muncul bahkan meledak-ledak dari dalam diri kita, emosi yang bertentangan, penerimaan tentang sesuatu yang belum sempurna. Itu adalah proses yang berat yang harus kita lewati apalagi ketika kita tengah mengalami kegagalan.
Banyak orang yang  dia gagal dalam kehidupannya, dia juga gagal mengatasi konflik yang berkecamuk dalam dirinya sendiri. Lalu apa yang dia lakukan, bunuh diri. Apakah urusn manusia itu hanya sebatas itu. Tapi mengapa mudah saja orang mengakhiri hidupnya atau hidup orang lain hanya karna kegagalan-kegagalan yang ia hadapi. Karena itu tadi. Berani mati itu gampang.
Setiap orang pasti memiliki fase dimana dia mengalami sebuah keterpurukan, entah dalam studi, hubungan asmara, hubungan dengan keluarga, masalah dengan pergaulan dan segala macam konflik sosial yang semakin lama semakin mengerikan. Tak terkecuali saya. Keterpurukan karena seperti yang saya ungkapkan di atas, terlalu percaya bahwa akan mendapatkan suatu kebahagiaan, ternyata takdir berkata lain. Saya terpuruk, tak mudah untuk bisa merangkak naik keluar dari konflik-konflik yang berkecamuk dalam diri saya sendiri. Setelah saya berhasil bangkit.
Keterpurukan itu harus terjadi lagi. Bahkan dampaknya lebih dalam dari sebelumnya. Saya sempat berada dimana hidup saya seperti ditekan tombol reset-nya, kosong. Saya merasa kehilangan sebuah masa dalam hidup saya. Sulit sekali menerima bahwa keadan itu terjadi pada saya. Dunia saya seperti terbalik dimana batas antara mimpi dan kenyataan itu semu. Saat itu saya percaya keterpurukan saya hanya mimpi, dan saya segera bangun dari mimpi ini dan semua akan kembali seperti semula. Tapi tidak seperti itu. Keterpurukan itu benar-benar terjadi. Tapi saat itu saya tidak bisa menerimanya. Penyangkalan-penyangkalan dan konflik-konflik batin yang terjadi mengantarkan saya pada suatu titik dimana saya hanya diam dan membiarkan aliran semesta yang berjalan.
Setelah kita menyerahkan diri pada penerimaan dan membiarkan semesta yang melakukan sisanya kita bisa merasakan, bagaimana keterpurukan itu terjadi karena kita sok tau tentang rencana Tuhan atas hidup kita. Kita terlalu memikirkan nanti bagaimana, nanti begini, nanti begitu. Kita berspekulasi seolah-olah kita yang mengontrol semua itu. Kita lupa menikmati keterpurukan itu dan mencoba mencari apa sih yang Tuhan rencanakan buat kita, apa sih yang Tuhan siapkan buat kita.
Jadi yang membuat saya masih bertahan hidup hingga sekarang adalah yang pertama percaya pada harapan itu penting, asal kita berharap sesuai dengan kapasitas kita, minimal jika gagal nggak sakit-sakit amat. Kedua siap untuk menerima kegagalan dan keberhasilan walau persentasenya hanya 1% sekalipun. Sangat penting kita mempersiapkan diri untuk itu, mental kita harus terlatih untuk bisa mengatasi fenomena yang terjadi pada diri kita yang akan berdampak sangat luar biasa baik pada diri kita sendiri atau orang lain bahkan lingkunag kita. Ketiga. Nikmati segala prosesnya. Percaya apa yang kita alami tak akan pernah sia-sia. Maknai setiap detail-detail programnya Tuhan atas diri kita. Keempat, jangan lupa bersyukur. Menurut saya ini adalah sebuah dasar yang cukup atau mungkin sangat sulit untuk dibangun pada diri manusia apalagi ketika sedang dalam keterpurukan.
Dan apakah hal-hal itu mudah dilakukan. Saya berani pastikan tidak mudah sama sekali. Kita harus berjuang mati-matian mengalahkan bisikan-bisikan dan pikiran-pikiran buruk dari dalam diri kita. Kita harus mati-matian menekan ego kita. Kita harus merendahkan diri kita dan menerima kalau kita itu lemah. Dan berusaha bangkit, mencari pemecahan masalah itu, berdamai dengan dirikita sendiri kemudian memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar kita. Karena itu saya berani katakan BERANI HIDUP ITU LUAR BIASA.

Kamis, 16 Maret 2017

MAWAR HITAM DALAM KOTAK KACA


Rosa Nera… kusebut kau rosa nera, mawar impian, mawar mempesona. Sosokmu adalah sesuatu yang kuimpikan dan kuharapkan. Namun banyak belukar disekitarmu meski aku menginginkanmu, jangankan menyentuh, mendekatimu sudah membuatku takut. Aku takut terluka awalnya. Hingga suatu hari kau menyapaku dalam sebuah tulisan.

Kita saling menulis kata-kata pertemanan, kita berlempar canda, bercerita tentang mimpi-mimpi dan imaji. Aku mulai berani untuk menyentuhmu, lalu kau genggam erat tanganku. Aku merasa menemukan duniaku, mendapatkan mimpiku. Bersamamu dan beberapa orang juga menjadi dekat denganku. Begitu indah, begitu sempurna. Semua yang aku butuhkan dam impikan ada pada dirimu dan orang-orang itu.

Berjalan bersamamu adalah sebuah kebanggaan bagiku. Terkadang canggung namun aku bahagia. Rosa nera, kusimpan kau dalam kotak kaca, untuk kupandangi dan kumiliki.
“Because tonight
Will be the night
I will fall for you
Over again don’t make me change my mind
Because the girl like you is impossible to find
Your impossible to find”
Saat-saat itu adalah saat yang sungguh indah. Terlalu sempurna seperti mimpi yang jadi nyata.

Hingga suatu ketika kulihat pesonamu meredup, kelopakmu seakan berpaling dari hadapanku, berpaling meninggalkanku. Rosa nera dalam kotak kaca, kau nampak sesak, tak bahagia, kau telah berubah. Duri-durimu mulai mencoba menggores kotak kacaku. Tak tahukah aku sangat menyayangimu. Goresan itu perlahan menjadi luka. Tanpa sepatahkatapun kau jadi berbeda.

Hingga kupecahkan kotak kaca itu dengan tanganku sendiri. Serpihannya dalam menusuk dan perih. Pergilah, walau aku sekarat. Pergilah, walau seakan tak berarti hidup ini bila tanpamu. Kau hanya berkata
“Lupakanlah aku! Selamat tinggal.”
Bagai ditikam belati kenyataan, aku terbunuh.
Aku merasa taka da artinya lagi aku membuka mata. Ntah imaji atau depresi. Seakan gambaran kematian dengan mudah membuat alur ceritaya diotakku. Bagai menonton sebuah film drama kematian itu setiap saat muncul dengan berbagai skenarionya.
Setiap goresan dan darah yang mengalir tak lebih perih dari luka hati ini. Serasa gila ketika ku mendengar lirik-lirik yang pernah kau nyanyikan untukku. Aku lelah, aku muak dengan semua tentangmu. Tapi aku tak bisa berpaling darimu. Biar ku tak termiliki jika bukan olehmu, pikirku waktu itu. Aku sempat mencoba melenyapkan nafasku agar sakit ini segera usai, namun mungkin Tuhan masih membiarkanku merasakan cintaNya. Kemudian Ia mengirimkan pengobat lukaku.
Waktu demi waktu berlalu, cerita lain mulai datang mengisi, cerita yang dulu belum termulai ia menulis kata demi katanya kembali. Dan aku menyadari begitu bodoh dan sia-sianya hatiku. Namun aku banyak belajar dari luka itu. Luka yang mendewasakanku. Luka itu yang mengajariku tentang cinta tak hanya sekadar keinginan, mimpi dan harapan. Cinta adalah kenyataan. Cinta adalah kebersamaan. Cinta adalah tentang belajar saling menjaga dan mendewasakan.
Rosa Nera dalam kotak kaca, kini kau hanya sepenggal cerita. Bersamamu aku belajar benyak hal, terbunuh olehmu mendewasakanku. Aku tak pernah sekalipun membencimu, walau pudarmu tanpa sepatah katapun. Dan ku beruntung sempat memilikimu.

Rabu, 15 Maret 2017

SAKURA WISH: Ketika ia pergi meninggalkanmu

"Andaikan ada 'Sakura Wish'. Keajaiban sakura yang bisa mengabulkan keinginan. Aku ingin bisa melihatnya lagi. Tapi aku tahu itu tidak mungkin. Aku harus merelakannya pergi. Tapi Sakura, bolehkah kuucapkan satu permintaanku? Hadirkanlah seorang yang bisa menyembuhkan luka di hatiku ini. Kuucapkan namamu tiga kali, Sakura...Sakura...Sakura..." Lanjut Keiko sambil memandangi kuncup-kuncup bunga sakura yang sudah mulai mengintip siap mekar di dahan-dahan pohon sakura itu.



Aku pernah seperti dia, mencintai lalu kehilangan. Tidak benar-benar tidak bertemu memang, hanya selamanya tak bisa bersama lagi. Perih, sakit, bahkan sempat frustrasi dan meninggalkan beberapa trauma. Move on? Hanya mitos kala itu. Tapi ketika suatu hari tak sengaja aku melihat deretan buku-buku di sebuah minimarket. Melihat sampulnya aku langsung jatuh hati. Tanpa pikir panjang aku membelinya dan  membacanya. Kemudian. Air mataku menetes ketika membaca paragraf ini. Selemah itukah aku, semudah itukah aku terpuruk. Kuucapkan 'Sakura Wish'-ku sendiri. Lalu akupun mulai bangkit dari keterpurukan, dan kini menemukan dan memiliki seorang yang sangat lebih berarti untuk selamanya. Dan bagaimana dengan cerita keterpurukanku, dan bagaimana proses bangkitnya. Nantikan ditema selanjutnya... Oyasumi...

Senin, 13 Maret 2017

CINTA ADALAH SEGALANYA


Cinta adalah segalanya, saat orang mempertanyakan kekuatan cinta katakanlah seperti lelaki pas pasan meminang wanitanya. Karena kesalahannya dimasa lalu ia tak menyelesaikan S1-nya, pekerjaannyapun hanya sekadarnya dan pada akhirnya, si wanitapun pergi bersama orang lain. Karena cinta sebatas kepuasan kebutuhan. Sebercanda itukah cinta.

                Memang tak mudah memaknai cinta. Pada dasarnya tergantung seberapa manusia itu mengenal dirinya dan Tuhannya. Sedalam itukah cinta? Benar adanya menurut saya. Bagi saya cinta adalah kebahagiaan, cinta adalah kejujuran, cinta adalah pengorbanan, baik berkorban memberi atau berkorban menerima. Cinta adalah saling, cinta adalah keseimbangan, cinta adalah hakikat kehidupan itu sendiri. Bahkan cinta merupakan esensi Ketuhanan yang mulia.

                Jika cinta begitu mulia mengapa banyak manusia terjerumus karena cinta? Mengapa ada perselingkuhan, mengapa ada perzinahan, mengapa ada pembunuhan atas nama cinta. Masih menurut saya dengan kemuliaan cinta yang hakiki tak mungkin hal-hal itu terjadi. Lantas apa yang menyebabkan semua itu terjadi? Bukan karena cintanya, tapi manusianyalah yang menciderai hakikat cinta yang begitu mulia. Manusia yang terikat dengan dunia, terikat dengan dosa, manusia yang tak teguh hatinya. Termasuk saya.

                saya berkeyakinan jika kita melakukan segala sesuatu dengan cinta, bagaimanapun keadaanya rasa syukur pasti mengikutinya. Bayangkan jika setiap bangun pagi hari kita buka mata dengan cinta sekucel apapun pasangan kita pasti ada senyum saat menyapanya. Bayangkan bila kita bernafas dengan cinta, selelah apapun, seberjuang apapun kita melawan penyakit kita akan selalu bersyukur atas nafas yang masih melekat. Jika kita bekerja dengan cinta, tak ada lagi yang namanya menunda pekerjaan dan lemburan. Jika kita belanja dengan cinta uang yang kita keluarkan pasti tak akan over budged karena kita pasti memikirkan uang tabungan, uang sedekah, kebetuhan keluarga kita. Ah ntah membayangkan segalanya dengan cinta nyaman rasanya.


                Cinta itu berkorban, cinta tak hanya menerima, cinta itu tak hanya perlakuan semata, tak hanya sentuhan dan ucapan. Cinta itu kerja keras, cinta itu kesabaran, cinta itu beradab, cinta itu tidak sombong. Cinta itu suci, laksana kehadiran Tuhan itu sendiri. Karena Tuhan Maha Cinta.  

KESEMPURNAAN CINTA

Bagaimana jika saya mempunyai anak, tetapi anak itu tak sesuai dengan yang saya harapkan...
Frustasi, marah, benci, malu, merasa lebih baik anak itu tak pernah ada. Manusiawi ketika kita mengharapkan sesuatu pasti berharap sesuatu itu yang terbaik. Apalagi berharap tentang seperti apa si buah hati yang bukan hanya dimiliki satu atau dua hari. Dalam publikasi mungkin hanya tertulis semoga menjadi yang baik berguna bagi orang tua, bangsa dan agama, tapi apa hanya itu yang kita inginkan? Tentu tidak.

Sadar atau tidak kita membuat standar penerimaan kita terhadap anak. Fisiknya harus begini harus begitu, mental dan emosinya harus begini harus begitu. Lantas kecewa akan datang ketika tak sesuai dengan standar kita. Kemudian kita mulai mendapati anak lain yang lbuh sesuai dengan harapan kita, dan kita mulai membandingkan si buah hati dengan anak lain tanpa memikirkan perasaan kecewa dan pedih yang ia rasakan. Hanya demi kepuasan atas harapan-harapan kita. Saya hidup dalam lingkungan anak-anak yang tak sesuai harapan bahkan mungkin awalnya tak diharapkan.

Mereka berbeda, mereka tak sempurna. Dan saya tau dan kenal dengan orang tua mereka. Tak mudah menjadi mereka. Mereka pun tak bisa memilih seperti apa mereka dilahirkan. Apakah mereka produk gagal dari Yang Maha Kuasa? Akan saya tampar mulut orang yang merendahkan mereka dan keluarganya. Kenapa? Pertama, mereka sempurna dengan dan seperti itulah kesempurnaan yang Tuhan berikan bagi mereka. Kedua, orang tua yang mendapatkan anak yang secara manusiawi tidak seperti yang diharapkan mengalami proses yang luar biasa, masa depresi dan penolakan terkadang si anak yang menjadi korban, setelah itu perlahan orang tua itu akan mulai pasrah dan mulai menerima keadaan anaknya, lalu dengan kesabaran yang luar biasa syukur mulai bisa terucap. Sungguh perjuangan yang luar biasa. Ketiga si anak pun mereka terus berjuang baik dalam gejolak dirinya sendiri ataupun tekanan dari lingkungan yang tak terlalu tangguh untuk menerimanya.


Secara pribadi secara manusiawi rasa kecewa marah dan sedih pasti ada, namun dengan peejalan hidup dan pertemuan saya dengan anak-anak dan orang tua yang luar biasa yang menguatkan saya untuk selalu menerima keberadaanya, bersyukur dan berusaha yang terbaik untuk si buah hati bagaimanapun keadaanya itulah KESEMPURNAAN CINTA.

Minggu, 12 Maret 2017

Impianku

Sayang...
Panggilku kala kugenggam tanganmu
Ku tatap indah matamu
Ku sentuh manja pipimu
Dan kududuk dipangkuanmu
Nyaman dan menyenangkan
Kubayangkan bunga bermekaran
Aneka hiasan dan kemeriahan
Ingin bermesra manja
Dihamparan bunga sakura
Janjimu kala itu
Kita akan kesana
Membayangkan kemesraan itu
Tergelitik untuk berlaku manja padamu
Ah sakura
Mungkin suatu hari nanti
Ketika semua telah tertata rapi
Ku akan menyapamu
Menyentuhmu
Menari bersamamu
Bermesraan denganmu

Sabtu, 11 Maret 2017

Kotak Pos

                “Hemmh… segarnya!” Aroma teh yang khas ditemani pemandangan pedesaan dan megahnya gunung Merapi, sejuk dan segar, udara yang begitu bersih, indahnya. Suasana seperti ini yang selalu aku rindukan ketika datang kesini. Sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Rumah nenek. Tempat yang tenang dan nyaman dengan lingkungan penuh kehangatan dan keramahan. Istimewa. Tak ku temukan yang seperti ini di kota sana.
                “emm… Bulik!” panggilku kepada adik perempuan ayahku.
                “Ada apa Ndhuk?” panggilan yang selalu membuatku nyaman.
                “Teman-temanku yang dulu pernah bermain bersama itu masih banyak yang tinggal disini Bulik?” tanyaku penasaran, entah tiba-tiba aku teringat sepuluh tahun yang lalu saat aku berlibur kesini.
                “hmm… anak seusiamu sudah banyak yang bekerja keluar kota Ndhuk! Apalagi yang peremuan sudah banyak yang menikah.” Jawabnya sambil menerawang jauh mencoba mengingat anak-anak yang kini sudah tumbuh dewasa.
                Setelah menghabiskan teh hangat yang nikmat itu aku pergi berkeliling desa sambil main ke sawah.
                “Bulik aku jalan-jalan dulu ya!” pamit ku pada Bulik Sari.
                Dengan bersemangat aku melangkahkan kakiku menuju jalan-jalan setapak yang kanan kirinya ditumbuhi berbagai tanaman.
                “sejuknyaaa!” kataku sambil merentangkan kedua tangan menikmati udara yang sejuk dan segar. Tak terasa langkahku tiba di sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas.
                “eh sini! Ayo main sini!” seorang anak perempuan menarik tanganku.
                “hah? Main apa?” tanyaku bingung.
                “mainan kotak pos ayo!” kata salah satu anak yang sama sekali belum ku kenal.
                “ayo…ayo..ayo!!” seru beberapa anak lain.
                “ayo wis!” seru seorang anak laki-laki yang mungkin setahun lebih tua dariku.
                “nggak usah pakai nama hewan yo? Tapi dia yang jaga!” sambil menunjuk kearahku.
                “eh.. kok.. aku? Kenapa?” tanyaku bingung.
                “kalau nggak mau ya udah! Pergi sana!” katanya.
                Merasa tertantang san sedikit sebal karena sikap anak itu. Permainan pun dimulai.
“Kotak pos belum diisi mari kita isi dengan isi isian….” lalu satu persatu menyalamiku dan menyebutkan namanya.
                “Sena!” kata anak menyebalkan itu.
                Aku mengejar anak yang berlarian sambil mengingat nama-nama mereka. Lari mereka yang cukup cepat dan aku yang belum bisa menghafal nama-nama mereka cukup dibuat repot dan lelah, tapi menyenangkan.
                “Dani! Kena” kataku sambil menepuk bahu seorang anak  laki-laki.
                “Yee… salah!” teriak semua anak bersamaan.
                “Asri! Kena! Ye salah aku Nurul! Wekkk!” sambil membuat wajah lucu kearahku.
                Setelah hampir satu jam berjuang sekuat tenaga permainan itu mulai tidak asik buatku. Aku berlari dengan mata berkaca-kaca, aku hampir menangis, sebal, merasa dipermainkan.
                “semua salah anak itu! Salah dia!” kataku dalam hati mengutuk anak itu. Semua anak tertawa terbahak-bahak karena sekalipun aku tak pernah benar menebak nama mereka. Yang namanya mulai ku hafal larinya terlalu kencang. Termasuk Sena, anak menyebalkan itu.
                Aku sudah lelah. Lelah dipermainkan. Rasanya ingin menangis. Tak terasa air mataku mulai menetes. Aku berlari sekencang mungkin agar permainan ini segera selesai. Aku melihat sebuah punggung yang berlali menjauhiku, aku berlari sekencang mungkin.
                “Sena! Hiks… hiks… kena.. huu..hu..huu” suaraku lemah sambil mulai menangis.
                “Wis-wis.. Bocahe nangis! Pulang yook!” katanya pada seluruh anak disitu.
                “ayo…ayo huuu nangisan.. huuu!” seru anak-anak yang lain.
                Aku terdiam. Air mata masih membasahi pipiku. Dengan pandangan buram mataku melihat anak-anak itu meninggalkan halaman yang luas itu.
                Sore itu langit kemerahan, angin berhembus sejuk. Indah, tapi aku sedang sedih. Aku masih terus menangis. Kakiku lelah sekali. Aku terduduk dan masih menangis. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki menuju kearahku.
                Sesosok anak laki-laki cukup tinggi untuk anak seusianya, kulitnya bersih, langkahnya tegap, wajahnya cukup manis sebenarnya, ia berjalan kearahku. Tanpa sepatah katapun ia mengusap air mataku dan mengacak-acak poniku.
                “Ayo kuantar pulang!” katanya sambil menarik tanganku. Sepanjang jalan tanpa sepatah kata keluar. Tak lama kemudian tiba di sebelah rumah nenekku.
                “besok pagi ayo main lagi! Aku tunggu di tempat tadi!” katanya.
                Tak sempat aku menjawab ia sudah lari, pergi menjauh. Aku masih terdiam memandang hingga sosoknya menghilang di ujung jalan. Tanpa sadar aku tersenyum, rasanya tak sedih lagi.
                “ Apa Ma! Pulang nanti malam? Kok pulang! Aaaa nggak mau!” protesku ketika orang tuaku memutuskan kami harus pulang malam ini juga karena mendadak mama ada tugas dari kantornya yang tak bisa di tunda.
                “kamu ikut pulang atau pulang naik bis sendirian!” bentak mamaku. Aku mulai menangis.
“Aku harus ke tempat itu besok pagi, Sena pasti menunggu.” Kataku dalam hati. Mau tak mau aku harus pulang malam itu juga.
Beberapa hari setelah itu liburanpun selesai. Aku sangat bersemangat masuk sekolah. Walaupun sekarang aku sudah naik kelas 5 namun aju telah berjanji duduk sebanggu lagi dengan Ana, dia sahabat baikku.
“hai cha! Apa kabar? Gimana liburanmu? Kamu ke Klaten ya kemarin?” sapa Ana dengan keriangan seperti biasa.
“hahaha. Baik Na! iya aku ke Klaten ke rumah nenekku. Tapi sayang Cuma 2 hari mamaku harus ke kantor. Menyebalkan! Eh kamu tau nggak di sana ada anak cowok cakep sih tapi…” ceritaku penuh semangat namun harus terpotong karena bu guru memasuki ruangan kelas.
“tapi apa cha?” tanya Ana sambil berbisik.
“dia nyebelin. Tapi kayaknya aku suka sama dia! Namanya Sena” kataku sambil memalingkan muka meperhatikan guru yang baru memasuki kelas. Meninggalkan rasa penasaran pada Ana tentang liburanku di Klaten
Tak sadar beberapa menit aku berhenti di tempat itu memandang halaman tempat dulu aku bermain dengan anak-anak sekitar sini dengan Sena tentunya. Aku merasa aneh, tersenyum geli mengingat masa sepuluh tahun yang lalu. Teringat aku suka pada seorang anak bernama Sena.
“hmmmh” aku menghela nafas panjang sambil tersenyum.
“kata orang sih cinta monyet! Memang Sena menyebalkan seperti monyet” kataku dalam hati sambil terus tersenyum. Kemudian aku melangkah sambil bersenandung.
“eh..” aku merasa berpapasan dengan seorang pemuda gagah berseragam sambil menjinjing tas dengan penuh wibawa. Aku berbalik untuk memastikan kemana dia akan berhenti, siapa tau dulu aku mengenalnya.  Ternyata dia berhenti di depan taman itu. Dia berbalik. Mata kami berpandangan.
“Sena?” kataku lirih.

Disebrang sana tatapan matanya seakan berkata. “ aku masih menunggumu disini Cha!”